Yutaka Kobayakawa - Lucky Star
RSS

Ada Cerita Dibalik Nobar Sang Pencerah

Beberapa hari lalu aku melihat tayangan infotainment yang sedang mengulas film Sang Pencerah. Mungkin kalian udah tau film ini atau malah udah menontonnya. Karena  tayangan ini aku jadi ingat suatu moment di lebaran kemarin. Ada cerita dibalik film Sang Pencerah ini.
Aku dan keluargaku, yang terdiri dari beberapa sepupu, om, dan tanteku menonton film ini pas di hari lebaran malam (tanggal 10 September 2010). Berawal dari ide salah satu Omku dari Malang(aku memanggilnya Pak Amin.red) yang mengajak untuk menonton film ini setelah kita selesai bersungkem-sungkem ria di rumah mbah. Langsung saja kita semua antusias menyambutnya.  Termasuk bapakku (tumben banget, padahal beliau nggak pernah tertarik tuh dengan hal-hal berbau nonton film dll). Akhirnya kami sepakat untuk nobar dan memilih pemutaran pukul 19.00.
Setelah acara sungkem-sungkeman, silaturahmi, tukar cerita dan makan-makan selesai, siangnya Bapak memutuskan pulang ke rumah dulu untuk istirahat, baru sorenya ke rumah mbah lagi untuk pergi nobar. Aku pun setuju. Kami sekeluarga pulang ke Panembangan ditambah Salma (sepupuku yang sebaya dengan Safira).
Sore pun datang tapi dengan mendung yang menggantung. Sepertinya hujan akan turun. Bisa gagal nih, batinku. Jam menunjukan pukul 17.00. Salma sudah merengek-rengek (bahkan sampai menangis. Ssstt...jangan bilang siapa-siapa) minta pulang ke mbah. Takut ditinggal nonton katanya.
Akhirnya sekitar jam 17.20, kami berangkat ke mbah. Hujan sudah turun dengan derasnya. Bapakku sempat meledek Salma, “Ngga jadi nonton ngga Ma... hujan gini...” Salma yang diledek pun makin cemberut. Padahal dalam hati aku juga cemas kalau itu benar terjadi. Udah pengen nonton soalnya. Penasaran abis.
Aku memang sudah melihat iklannya dan  tv dan bertekad harus menontonnya.  Dalam iklan memang tercantum bahwa film ini akan diputar secara serentak di seluruh bioskop pada tanggal 10 September. Tapi saat itu aku juga sangsi kalau di bioskop Purwokerto, alias bisokop Rajawali,  ini termasuk di dalamnya. Yah, mengingat betapa leletnya dan tidak updatenya pemutaran film di bioskop Rajawali, yang merupakan satu-satunya bioskop yang masih ada di kotaku. Bahkan terkadang tenggang waktu dari premiernya bisa sampai 2 mingguan lebih. Sangat mengecewakan. Aku pun tak berharap banyak.
Sesampai di rumah mbah, kami solat magrib. Hujan masih terus saja mengguyur. Malah semakin deras. Aku sempat tanya ke sepupu kembarku. Dina Dini.
“Jadi nonton nggak nih??”
“Tau tuh Bapak (Pak Amin.red)... masih hujan juga...” Ngga tau Dina apa Dini deh yang ngomong ini. Aku lupa.
“Aku sangsi lho... soalnya bioskop sini lelet banget. Kayaknya sih filmnya belum ada. Apalagi ini lebaran. Mending telphon dulu apa ya?”
“Masa sih Mba?? Punya nomor  telephonnya ngga mba?”
“Tapi aku nggak punya. Ntar deh coba kutanya.”
Aku langsung tanya ke beberapa temanku, tapi nihil.
Sementara hujan sepertinya tak punya niatan untuk berhenti.
Lalu aku dan sepupu-sepupuku disuruh makan malam.
“Makan...makan dulu....  nanti setelah itu berangkat,”kata omku.
Ternyata benar, setelah makan, omku langsung nyalain mobil. Padahal hujan lagi gede-gedenya. Pantang mundur ternyata.
“Ayo...ayo..mb Dinar ikut?”
“Ini jadi mau nonton?”tanyaku masih tak percaya. Gilaa hujane derese puoll... enakan meringkuk di kasur...
“Ya ini Pak Amin, Dina Dini, sama anak –anak cowok mau berangkat. Kalau ikut ayo, sama Fira juga. Bilang ke bapak dulu,”kata Omku semangat. Padahal sepupu kembarku itu yang notebene anaknya, baru saja dioperasi skoliosis dan masih dalam tahap penyembuhan. Ckckck... semangat sekali Omku ini. Si kembar juga tak kalah semangat sih.
Akhirnya aku bilang ke bapak yang masih di mushola. Bapakku ternyata nggak jadi ikut, dingin katanya. Ternyata beberapa orang yang tadinya mau ikut juga mundur, mungkin enggan karena hujan yang begitu deras.
Ya udahlah dengan tekad baja, dan semangat pantang mundur berangkatlah aku, adikku, beberapa sepupuku,  menuju bioskop.  Menerjang derasnya hujan dan dinginnya malam juga melawan rasa kantuk yang menyerang.  Khawatir juga sih kalau filmnya masih belum diputar atau bioskopnya tutup.  Secara ini malam lebaran gitu lho. Sia-sia nanti pengorbanan.
Sekitar 15menit kemudian sampailah kita di bioskop. Dan ternyata di sana udah ada salah seorang tante dan sepupuku yang berangkat dari rumah mereka. Ouh, keluargaku ternyata semangatnya tinggi-tinggi juga. Hehehehe. Sampai di ruang tunggu, bisakah kalian bayangkan, sepiiiinyaaa bioskop itu??? Cuma ada sekitar 23 orang yang sedang duduk dan selebihnya hanya petugas bioskop. Wakzz!!
Setelah urusan tiket selesai, kita kembali dikejutkan dengan keadaan theater room yang kosong dan gelap tak terlihat satupun pengunjung... tapi waktu itu film udah mulai diputar.
“Mba... gila...ini Cuma kita apa yang nonton??” kata salah seorang sepupuku sambil melengak-lengok kesana kemari.
“Kayaknya sih gitu... Emang Cuma keluarga kita kali yang punya ide buat nonton film di bioskop pas lebaran... Benar-benar serasa bioskop pribadi.... hahaha”
“Iyya... bener-bener home theater milik sendiri.... hahahaha.”
Akhirnya kita memilih tempat duduk, setelah sempet bingung karena begitu banyak pilihan.
Setelah nyaman dengan posisi masing-masing. Mulailah kita konsen ke film Sang Pencerah.
Berawal dari Kiai Dahlan Muda (Darwis) yang diperankan oleh Ikhsan Idol yang pergi ke tanah suci Mekkah untuk menuntut ilmu dan haji. Yang kemudian pulang ke kampungnya di Kauman, Yogyakarta. Kia Dahlan dewasa kembali sudah menjadi orang yang berpendidikan dan kemudian menikahi Nyai Ahmad Dahlan (Zaskia Adya Mecca). Beliau mulai bergabung menjadi pengurus Masjid Agung. Sampai kemudian beliau mulai menemukan kejanggalan-kejanggalan dan ketidaksesuaian ajaran-ajaran Islam seperti arah kiblat dan sebagainya. Ini membuat kegelisahan dalam diri Ki Ahmad Dahlan. 
 Film ini benar-benar menggambarkan perjuangan KHA Dahlan sejak dia masih menjadi Darwis sampai dia berubah nama menjadi Haji Dahlan. Darwis muda sudah gerah dengan ritual Islam yang sering melenceng dari Quran dan Hadits, sehingga ketika ilmunya makin mencukupi maka mulailah dia bergerak untuk menunjukkan islam yang sesuai ijtihadnya.
Lukman Sardi bermain sangat apik dalam film ini. Dia bisa menggambarkan betapa rapuhnya Dahlan ketika begitu banyak hujatan menimpa dirinya tetapi dia juga bisa menunjukkan betapa tegarnya hatinya terhadap keyakinan yang dipegangnya. Aku bener-bener tambah salut sama tuh orang. Keren.
Mengenai setting dll sih aku nggak gitu ngerti ya. Tapi menurutku sih Mas Hanung Bramantyo udah cukup sukses membuat film ini. Setting tempat seperti daerah-daerah kuno di Kauman benar-benar tergambar di sini. Keren. Nggak salah Pak Yusuf Kalla dan Pak Budianto memberi apresiasi tinggi akan film ini. Juga untuk Ketua Muhammadiyah sendiri Pak Din Syamsudin sampai nonton film ini 6 kali katanya lho.
Pokoknya ngga sia-sia deh pengorbanan aku dan keluargaku, menerjang hujan disertai petir, melawan rasa malas, dan kantuk untuk nonton film Sang Pencerah ini... Yang nggak jadi nonton beneran rugi.Itu benar-benar moment tak terlupakan. Hehehe...
Makanya bagi yang belum nonton, nonton yah... (^_^)




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

My Cooking... My Feeling....

Pernah dengar nggak, kalau katanya rasa masakan itu berhubungan erat sama perasaan orang yang memasaknya atau dipengaruhi oleh perasaan yang sedang dialami orang itu. Aku dengar itu kalau nggak salah dari film apa gitu. Brownies atau malah film korea ya. Dulu waktu denger, aku nggak gitu percaya. Tapi malam ini aku membuktikan kebenarannya. Hahaha...
Tadi aku baru saja masak Orak-arik TeSis alias Orak-Arik Telur Sussis (namanya ngarang banget). Dan tahukah kalian bagaimana rasanya?? Amburadul alias ancur!! Hahaha. Nano-nano sih mending madan enak,ini rasanya campur aduk nggak karuan. Asin di satu bagian, dan manis di bagian lain. Hahahaha... eits, ini nggak biasanya lho. Bukan berarti tiap hari masakanku rasanya ancur ya...(ngeles.com). Tapi untuk taraf koki yang masih dalam proses sangat awal belajar, biasanya masakanku lumayan lah. Meski nggak bisa dibilang enak banget. Dan setelah aku kaji—sambil memakan hasil karyaku dengan penuh keterpaksaan karena laparnya perutku dan bentuk rasa tanggung jawab—aku membenarkan teori tersebut. Bahwa perasaan yang sedang dialami seseorang sangat berpengaruh pada masakannya.
Yah, seperti rasa masakanku yang kacau balau itu, perasaan hatiku memang sedang kacau balau dan amburadul tak jelas. Banyak pikiran, perasaan, keinginan yang tidak tertata pada tempatnya. Mambrah-mambrah kalau biasa aku bilang.
Penyebabnya??? Nggak jelas yang mana... waktu aku tarik benang permasalahannya nggak dapet. Dan sialnya ini sudah terjadi 3 hari ini. Damn! Aku seperti lagi kehilangan jiwaku. My soul, my spirit. Kalau kalian yang udah pernah baca The Host-nya Stephen Meyer, mungkin aku seperti tokoh-tokoh yang ada di situ. Jiwa mereka diambil makhluk asing dan digantikan jiwa yang lain. Bedanya jiwaku nggak diambil orang atau makhluk lain, tapi seperti lagi pergi jalan-jalan ke mana gitu dan jiwa yang ada diriku tuh cuma kamuflase. Jadi aku pun merasa Ini tuh bukan Dinar banget.... diriku bukan diriku. Ihhh...apaan coba tuh... ya pokoknya seperti itu kurang lebihnya. Aku tuh gemes, kesel, cape sama semua pikiran-pikiran, keinginan-keinginan, perasaan-perasaan, obsesi-obsesi yang beseliwaran nggak jelas di sekitar kepalaku, tanpa pernah bisa benar-benar menangkapnya satu persatu dan menatanya pelan-pelan. Semua beterbangan ribut... cape tau nggak. Kayaknya tuh mereka crowded banget di benakku, saling teriak sana-sini, tanpa bisa kukendalikan. Nggak jelas kan perasaanku??
Itu semua kayaknya benar-benar terefleksikan dalam masakanku tadi deh. Satu suapan asin bangett, satu suapan manis banget, satu suapan rasa bawangnya jelas banget, satu suapan lagi hambar. Pokoknya ngga jelas banget.
Awalnya emang udah nggak ada mood masak sama sekali, mood makan aja nggak. Tapi karena perutku udah memberontak, lalu tak ada lauk sesuai hati, ditambah telah ditolak dengan tega oleh my beloved mom, waktu kurayu beliau untuk bikin lauk baru. Maka terjadilah pencampuran segala kekacauan itu dalam wajan.
Inilah hasil masakanku, Bentuk segala kebetean, ketidak jelasan, kemarahan dalam hatiku.

Resep Amburadul:
Bahan:
1 butir telur kebetean
2 batang sosis kemarahan
6 buah cabe kebingungan
2 buah bawang merah kemalasan
1 buah bawang putih ketidakjelasan
Bumbu:
1 ujung  sendok teh garam keinginan
½ sendok gula kelaparan
Cara Memasak:
Masukkan bahan secara ambuaradul tanpa memerhatikan urutan. Aduk-aduk sesuai dengan perasaan yang sedang dialami saat itu. Angkat saat perasaan sudah membara alias gosong.
 Jadilah ....!! hahahahaha.....
Tapi meskipun masakanku amburadul rasanya, dengan besar hati dan penuh rasa tanggung jawab, aku menghabiskan semuanya. Sebenarnya sih lebih karena dorongan rasa lapar yang tak tertahankan. Ya iyalah aku kelaparan. Setelah aku ingat-ingat lagi, seharian ini aku cuma makan beberapa suap nasih waktu sarapan. Itu juga terpaksa banget, karena aku pikir aku perlu cukup nutrisi sebelum kuliah dan badanku harus fit. Jangan sampai sakit. Lalu di kampus, kayaknya aku ngga ngemil apa-apa. Lalu siangnya sehabis kuliah, aku hanya makan rujak sayur super pedes bareng Juz dan Bez (my best soulmate partners :P). Setelah itu dilanjutkan kuliah lagi dan sampai aku pulang dan sore mejelang, tak ada  lagi nasi yang mampir ke perutku. Laper sih jelas, tapi malas banget liat nasi. Aku lebih memilih bobo sore, dari jam 4 sampai maghrib, dipikirnya dapat mengurangi lapar atau paling ngga ngelupain sejenak. Tapi sewaktu terbangun malah semakin menjadi. Alhasil licin tandas tuh semua kulahap. . .
Lalu setelah perut ini kenyang, ajaibnya sebagian perasaan bete, marah, pusing dan ketidakjelasan itu hilang. Wow... perasaanku jadi lebih baik. Ternyata satu teori lagi terbukti, rasa lapar itu sangat berpengaruh pada emosi. Ini benar-benar terjadi padaku kok, aku baru sadar aku sering mengalaminya. Kalau aku lapar, mesti bawaannya nyolottt...
Jadi kesimpulannya... Pertama, jangan memasak kalau hatimu lagi kacau banget (kecuali kalau kamu emang benar-benar ingin tau sekacau apakah masakanmu, terlebih lagi hatimu!). Kedua, berhati-hatilah dengan orang yang lapar!!  Terutama kalau itu Aku!! Grrrhhrhh... (*.*)v


NB: Harusnya ini kuposting kemarin pas malam kejadian  (28 September 2010 pkl 21.00) Tapi baru sempet hari ini.








  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Apa yang sedang kupikirkan?


Aku sedang cemas.
Cemas dengan hidupku.
Cemas dengan masa depanku.

Aku dengan bingung.
Dengan tujuan hidupku.
Dengan apa yang kumau.
 
Aku dengan marah.
Marah dengan sifatku.
Yang tak kunjung berubah.

Aku sedang bertanya-tanya.
Mau jadi apa nanti aku jadinya.
Mau dibawa ke mana hidupku nantinya.

Aku sedang menunggu.
Menahan rindu yang membelenggu.
Kepada kamu tulang rusukku.

Aku sedang takut.
Bila sesuatu yang pasti itu akan datang menjemputku
Sebelum kamu berada di sisiku.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sudah saatnya ada Pak Kasur, A.T Mahmud atau Papa T.Bob lain sekarang!

Aku sekarang lagi merasa prihatin . Prihatin banget. Sama adikku, sepupu-sepupu kecilku, anak-anak tetanggaku, dan anak-anak Indonesia pada umumnya. 
Berawal dari adikku yang belakangan ini suka greyengan (mendendangkan lagu bervolume minimal.red). Ya, adikku Safira Rosmaniar, sekarang usut punya usut sering kudengar sedang mendendangkan lagu Keong Racun ( tadinya aku heran karena dia hafal, ternyata dia punya catatan liriknya, gilaa dapet darimana coba...). Setelah sebelum-sebelumnya ketika lagu C.I.N.T.A dan Aishiteru sedang booming pun, dia selalu menyanyikannya padahal kakaknya ngga sama sekali) . What the hell she sang about?!!. Aku prihatin banget melihat itu semua. Apalagi ternyata itu juga menjalar ke anak-anak lain di sekitarku. Ya ampun adik-adikku tersayang, tahukah kalian apa maksud lirik-lirik itu?? Itu sama sekali bukan dunia kalian.... dunia kalian tuh masih jauh banget dari itu...

Aku sedih karena mereka seperti sudah tidak mempunyai lagu anak-anak lagi. Mungkin masih ada sih, tapi minim banget. Tidak seperti zamanku dulu, yang banyak sekali dicekoki lagu anak-anak yang keren-keren dan berwarna-warni. Seperti lagu-lagunya Maissy, Chikita Meidi, Trio Kwek-kwek, Saskia, Geovani dll. Tentu kalian yang seumurku masih ingat lagu Cilukba, Kuku Kuku, Menabung, Abang Tukang Bakso atau Semut-Semut Kecil? Lagu-lagu itu sesuai banget dengan imajinasi dan dunia anak-anak yang seharusnya. Pokoknya anak-anak banget!! Aku bahkan mengoleksi semua kaset mereka, terutama Maissy (ssst...ini karena kata orang-orang sekitarku waktu kecil aku mirip Maissy. Hehehe ^_^v). Pokoknya standing applause for Pak Kasur, Bu Kasur, A.T Mahmud, Papa T. Bob dan pencipta lagu anak-anak lainnya. Lagu-lagu mereka tuh unforgetable banget.

Tapi sayangnya, sekarang kayaknya udah nggak ada Maissy, Chikita Medi, Trio Kwek-kwek, Saskia, Geovani baru. Itu membuat lagu anak-anak kayak mengalami mati suri. Jarang sekali terdengar dan tentu saja anak-anak menjadi asing akan lagu-lagu itu.
‘Buka Hatimu’nya Armada, ‘Aishiteru’nya Zivilia, ‘C.I.N.T.A’nya D’Bagindas, bahkan Keong Racun ataupun Cinta Satu Malam yang sekarang menjadi trend di kalangan bocah-bocah lugu itu. Hanya satu kata yang kurasa, IRONIS!! Dampak media rupanya berperan sangat besar di sini. Aku mengalaminya sendiri karena adikku udah jadi salah satu korban nyatanya.

Ya media...media menjadi salah satu penyebab utamanya. Media yang tidak pernah mempertimbangkan untuk sedikit saja memikirkan dunia anak. Media yang tidak pernah membuat porsi yang seimbang dalam membuat sebuah program atau tayangan. Media yang selalu saja berlomba untuk mencari keuntungan dan rating bukan kepedulian akan masa depan. Acara musik mungkin bejibun, tapi sekarang ada ngga sih yang tentang dunia anak atau benar-benar lagu anak-anak. Padahal kebanyakan anak-anak menghabiskan waktunya atau hidupnya bersama media, terutama televisi. Terseraplah semua itu dalam pikiran dan tingkah laku mereka. Pantas saja dulu Alm. Pak A.T Mahmud menyalahkan para awak media, ketika diwawancarai. Kalau nggak salah sih, beliau bilang begini, “Kalian...Kalian-kalian ini yang merusak dunia anak-anak... Mencekoki dengan hal yang tidak mendidik...“ Kurang lebihnya gitu deh. Aku setuju banget sama pendapat beliau. Beliau adalah orang yang paling sedih melihat matinya lagu anak-anak sekarang. Melihat anak-anak menyanyikan lagu orang dewasa dan kehilangan dunianya. Sumpah aku sedih banget waktu beliau meninggal. Padahal kenal ya nggak, ngefans ya nggak... tapi nggak tau kenapa... (akunya kali ya yang cengeng) :p
Bahkan sekarang, bisa kita lihat berapa persen lagu anak-anak di dunia musik atau acara anak-anak di tv?? Ya ampunnn sedikittt banget. Padahal yang mau pegang dunia ini ya nanti mereka. Kita-kita sih uda pada bangkotan, merekalah yang megang masa depan. Pantesan sekarang banyak anak-anak yang sudah dewasa sebelum waktunya atau anak-anak yang kenakalannya sudah di luar batas wajar. Itu karena lingkungan mereka pun udah nggak kondusif dan dunia anak-anak mereka sudah dirampas. Kasihan banget sih adik-adikku... masa masih SD ngomonginnya uda cinta-cintaan sih.

Wahaiiii para pencipta lagu, tolonglah jangan nyiptain lagu cinta mlulu... anak lu tuh diurusin. Dunianya udah kayak apa sekarang....
Sayang ya aku nggak punya kenalan pencipta lagu terkenal gitu... kalau ada yang kenal tolong deh dibilangin... Sudah saatnya ada Pak Kasur,Bu Kasur, A.T Mahmud atau Papa T.Bob lain sekarang!



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

K.O.N.D.A.N.G.A.N

Lagi buka-buka coretan lama di my document eh nemu file yang kutulis duluu bgt.. 
Judulnya: KONDANGAN.
 Berawal dari satu keluhan yang kudengar dari mulut my mom tersayang…
“Undangan lagi… undangan lagi… Heran deh… ngga ada abisnya…” dumel mama.
“Apaan sih ma?” tanyaku yang lagi menonton tv agak terganggu.
“Itu tuh… wong mbarang gawe koh ana bae… undangan tiga aja belum abis, datang lagi… datang lagi,” sungut mamaku sambil menaruh sebuah undangan di atas meja makan.
Penasaran, aku pun mengambil undangan itu. Undangan perkawinan. Dari salah satu tetangga desa, yang aku sendiri tak tahu siapa.
Satu keluhan itu kemudian ternyata nggak putus sampai di situ… Hari berikutnya terdengar lagi… dan lagi… Nggak Cuma dari mamaku saja tapi dari Bu lik, kakak sepupu, Bu de, belum lagi tetangga-tetangga di sekitar rumah.
Kondangan. Mbrang gawe. (istilah Banyumas)
Itu adalah satu fenomena yang saling melekat di kehidupan masyarakat kita. Sudah 
mengakar dari entah beberapa puluh tahun, kita sendiri nggak tahu. Mungkin banyak dari kalian yang mengenal istilah ini. Ini biasa disebut hajatan atau syukuran dari pernikahan atau khitanan. Ya, mungkin tujuan dari tradisi ini sebenarnya adalah bentuk rasa syukur atas kebahagiaan atas pernikahan atau khitanan. Si empunya hajat biasanya ingin berbagi kebahagiaan dengan saudara atau tetangga mereka. Tapi ironisnya sekarang dibalik kebahagiaan itu terbesit keluhan-keluhan di belakangnya. Ekonomi pas-pasan, membuat kondangan menjadi tambahan beban bagi mereka. Bahkan kadang orang membuat hajat, menjadi tidak murni lagi tujuannya, yaitu untuk syukuran tapi banyak juga hanya ingin memperoleh untung dan gengsi... Ironis memang. Tapi tradisi... tetap menjadi tradisi...sulit untuk dihapus. Hanya mungkin tujuan dan artinya harus diluruskan kembali...agar tidak melenceng....

Di bawah ini ada beberapa bait pandanganku ttg kondangan itu sendiri, nggak pantes juga sih dikatakan puisi... nggak tau lah apa namanya... Enjoy reading...


K.O.N.D.A.N.G.A.N
Suara dentuman music dari sound system terdengar…
Dangdut… melayu… qosidah… menjadi favorit…
Tratag… dari tenda… terpal… kain… atau seng… terpasang…
Senyum ramah… Sumringah… letih… di wajah tuan rumah tergambar….
Senyuman… sapaan… juga ada di wajah tamu-tamu undangan…
Tentengan… blik-blik… kaleng-kaleng… amplop… tak lupa ada di tangan…
Sajian makanan… kue-kue… kripik… prasmanan…. Terhidang…
Ramah tamah… percakapan… gurauan… bersahut-sahutan…

K-O-N-D-A-N-G-A-N
Punya dua sisi mata uang…
Satu tadi tergambar… sekarang satu sisi lagi akan ku umbar…

Rencana terlontar… pusing nyari utang…
Utang udah didapat… saudara diajak rapat…
Maksud terbilang… mulai mencari sumbang
Panitia dibentuk… glidig direkrut…
Sajian dibahas… lalu mulai dikemas…
Undangan terbentuk… lalu tercetak…
Setelah disebar… kabar pun tersiar…
Orang-orang kasak-kusuk…. Ketika melihat sedikit uang masuk…
Keluhan terlontar… kita aja masih sering lapar…
Tapi harga diri terlontar… jika tak ada 1 kilo pun beras sekedar…
Pusing… pusing… tujuh keliling…
Anak-anak minta jajan… tak ada uang buat kondangan…
Mengelak tak bisa… karena harga diri taruhannya…
Itu kata mereka…
Kata orangtuaku… orang tuamu…
Saudaraku… saudaramu…
Tetanggaku… tetanggamu…
Panembangan, 21 Januari 2009









 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KOS SENGGAL-SENGGOL

Itu adalah nama kosku. Banyak kisah di dalam sana yang membuat sedih, tangis, ketawa, canda, gila.... Namanya pun memiliki arti tersendiri. 
Sebelum bercerita lebih lanjut, aku akan mengenalkan penghuni-penghuni kos senggal-senggol dahulu. Penghuni dengan perbedaan karakter yang kalau dikaji sebenarnya tak ada habisnya...
Yang pertama, adalah :
Aku, Dinar Faiza 

Karakter: baik hati, ramah, tapi kadang malesan, suka panikan, lucu :p
Kedua : 
Ade Christanty Yudha Bestari (Bez)
Karakter : baik hati, suka banget menolong, rela berkorban, ngga tegaan, keibuan dlm hal masak (wwuekks), madan lelet, klo mengantri atau giliran apapun kata2 favoritnya adlah" aku yang terakhir aja." suka nangis sendiri ngadep tembok. teman 'mari ngeteh mari bicara'ku yang konsisten. Ade itu ga jelas sifatnya kadang bisa feminim bgtttt...tapi kdg jiwa premannya klo udah kluar..huhhh jgn heran...

Ketiga :
Faizati Yoestiana ( Juz)



Karakter: Juz ini adalah teman sekamarku. Aku, dia dan Ade juga teman satu kelas. Juz itu orangnya baik, care banget, tapi dia rada-rada genit gtu deh... taerkadang masih ada sifat kekanak-kanakan (peace juz) dan gampang berubah pikiran. oya dia gampang jatuh cinta....wkwkwk.. sebenere bukan jatuh cinta kali ya... tapi gampang suka cowok... tapi gampang juga bosan...
Keempat:
Khusnur Rohmah (mb Ununk). Karena kupanggil mba, berarti dia emang kakak angkatanku.

 
Karakter: Mb ununk itu kalau di kos senggal-senggol adalah sosok ibu dalam sebuah rumah. hehhehehe. Dia yang biasanya ngurusin listrik, air, dll. Terkadang dia juga sampai nombok.... (maaf ya mba)... dia kayak yg laen baik hati, suka berbagi, suka menolong, rela berkorban, trus cerewet jg...hehehe

Kelima:
Lilis Widayati (Mb Lilis)....kakak angkatan jg...


Karakter : mb lilis itu baik, cenderung agak cuek, moody, cerewet juga kyk emak (sering ngomelin kita yg suka naruh apa-apa sembarangan, males nyuci piring dan bersih-bersih) tapi itu demi kebaikan kita sih.

Keenam:
Lisna Maulidani (Lisna) dia adik angkatanku...

Karakter : Lisna itu baik hati, suka menolong, polos, rajin banget dan masih 'luruusss' bgt. Kayaknya tuh anak nggak pernah berbuat curang deh... Dia juga suka bawa banyak makanan kalau abis pulang mudik dari Tasik.

Itu semua adalah penghuni Kos Senggal-Senggol.... Kami berbagi canda tawa, sedih, bete, kesederhanaan, kepanasan bersama di kos ini. Kami sudah bersama sejak dari kos yang lama yaitu Intris 2. Dibilang kompak, kami cukup kompak, karena kami semua seia sekata ketika memutuskan untuk pindah dari Intris 2. Kami mencari kos baru juga bersama, kami ngedumel bersama ketika dulu suka ditagih uang kos dan listrik oleh ibu kos Intris 2... Dan tampaknya dumelan itu terus berlanjut sampai di kos Senggal-Senggol. meski masalah atau keluhannya berbeda (mungkin tambah parah). Yah, kami cukup kompak, karena telah bersama selama kurang lebih 2tahun. Konflik sih jangan ditanya, tiap hari mungkin ada ajaa...
Itulah sekilas gambaran tentang para penghuni Kos Senggal-Senggol.

Sekarang aku akan menjelaskan kenapa kosanku ini dinamakan Kos Senggal-Senggol.  
Nama itu murni nama julukan dari aku dan teman-temanku... Senggal-senggol... kami menamakannya seperti itu bukan tanpa alasan. Yah bisa dibilang, kontrakanku itu tidak luas dan ibarat ukuran baju, mungkin ‘S’ atau malah ‘SS’ hehheheehe... itu bisa merupakan kepanjangan dari ‘Sangat Sederhana’ ya semuanya serba “terbatas”. Aku menyebutnya ‘mini’ untuk mengganti kata-kata yang agak kurang enak didengar seperti ‘sempit’ atau sumpek. Dari kamar tidur, kamar mandi, semuanya mini. Wkekeke.... Kamar  tidur ada 3 padahal penghuni kosnya 6jiwa. Satu kamar memang untuk 2 org, pdhl kamarnya, seperti yang aku bilang ‘mini’. Tempat tidur bersusun ala pemodokan haji memang mungkin dibuat untuk menghemat tempat. Kamar mandi memang ada 2, tapi ya itu, ‘mini. Karena tempat yang mini dan penghuninya yang lumayan banyak, ditambah lagi kami sering kedatangan tamu-tamu (teman-teman.red) maka ruang gerak kami sangatt terbatas, sehingga sering bersenggolan satu sama lain. Tidak hanya dengan sesama manusia tapi tembok, meja, lemari dll. Hehehe... mungkin agak lebay sih... tapi yah itu memang benar-benar pernah terjadi. Karena tidak banyak dipisahkan oleh jarak, maka intensitas memandang dan bertemu antar penghuninya pun sangat...sangat  rutin, sampai kadang bosan sekali melihatnya....hahhahaa  (just kidding). Lokasinya pun di lokasi padat penduduk.
Yah...selalu saja senggol sana...senggol sini....hahahaha....
Itulah sekelumit cerita tentang Kos Senggal-Senggol. Salah satu kepingan yang cukup mengambil bagian dalam kisah hidupku... Mungkin kadang merasa pahit saat menjalani tapi akan indah bila sudah dikenang. (^_^)

Dynarsist

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Little Space: Empetttt.....

Little Space: Empetttt.....: "Pernahkah kamu merasakan sesak yang menggumpal di dada?? Saat ada sesuatu yang mengecewakan, keinginan yang tidak tercapai, marah yang hany..."

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS