Yutaka Kobayakawa - Lucky Star
RSS
Tampilkan postingan dengan label Fenomena dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fenomena dunia. Tampilkan semua postingan

Proposal Seminar?? Done!

Hello Guyz...
Long time no see... I wish everything is fine. Oya, aku belum ngucapin:

Selamat Datang Bulan Ramadhan & Selamat Berpuasa Semua....

Maaf telat ya, maklum orang sibuk, sibuk nganggur #nguukk... Maafin juga kalau aku ada salah, baik yang sengaja ataupun tidak, dalam lisan maupun tulisan, yang terungkap dan tidak terungkap... Gimana nih udah hari ke 4 puasanya ngga ada yang bolong kan?? #abaikan. 
Mungkin kemarin ada di antara kalian (semoga saja ada) yang bertanya-tanya, menerka-nerka, sampe tergila-tergila "Ke manakah si empunya blog ini pergi? Atau, sedang sibuk apakah si empunya blog yang imut nian itu?" (Himbauan: abaikan pertanyaan itu!). Makanya, aku mau cerita sedikit kegiatanku kemarin, yang cukup membuat energiku terkuras, perasaanku tertekan dan otakku cenut-cenut. Alhamdullilah yahh... dengan mengucapkan rasa syukur dan bacaan basmallah, aku ingin menginformasikan bahwa:

Aku sudah SEMINAR PROPOSAL kemarin!
 (Selasa, 2 Agustus 2011) 
Yipppieeee.....!!!

Bukannya bermaksud pamer dan lebayy tapi aku hanya ingin mengungkapkan kelegaanku yang luar biaaasaaa... Andai kalian tahu, betapa galauuunyaaa diriku ketika hari itu belum datang... Tidur tak nyenyak, makan tak enak, kadang-kadang dada sesak dan sering terisak-isak di waktu imsyak #apalah. Pokoknya ngga enak banget deh rasanya, ada yang 'ganjel' di pikiran sampe kadang suka ngelamun ngga jelas di empang... Untung saja penyakit gila ini tidak berlanjur ke stadium akhir... Amit..amit...

So, ngerasa udah seminar tuh kayak terbang ke Planet Saturnus, trus ketemu sama dewa-dewi Olympus terus joget-joget sama badut sirkus!! #randomabis.
Yahhh pokoknya aku BAHAGIA  & LEGA, satu tahap (di antara berjuta lainnya) sudah kulewati dengan lumayan lancar... Dan semoga selalu lancar dan sukses seterusnya dalam menghadapi tahap-tahap lainnya. Aminnn....
Sekarang hatiku sudah tak lagi tertusuk-tusuk dan tanganku udah bebas dari silet atopun golok ketika mendengar pertanyaan:
"Dinar... kapan seminar??"
"Dinar... Udah seminar?"
"Dinar... kalau seminar undang-undang ya..."
"Din... udah sampe mana? yang itu udah pada seminar kan?"
Muahahahahahhahahahhahaha.... :D
Sekarang aku bisa dengan lega, membagi emoticon :D atau :) ketika mereka bertanya tentang itu, dan say goodbye buat emoticon T_T ......
Wkwkwkwkwk..... #uhukkk
Terimakasih untuk support, doa ataupun kedatangannya bagi siapa aja... Love u... T_T #lebaylagi


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sinetron-Sinetron itu Membunuhku!

Hi Guyz... :D
How is your day??? Fine, great, boring, suck?? Wish it's great... Nggak kayak diriku yang mengalami hari yang bener-bener membosankan... Hahaha... #menertawakannasib
Kali ini aku mau cerita tentang kejadian yang sangat membosankan dan mengesalkan yang aku alami kemarin malam. Kemarin, di malam yang sepi dan biasa aja, tanpa hiburan yang berarti, aku berada dalam satu ruangan (jangan tanya di ruangan mana) bersama ibu-ibu (beserta anak-anaknya) yang termasuk dalam tipe penggila sinetron picisan a.k.a sinetron overlebay sejuta! Oh God, Demi nama Gorila Poco-Poco aku terjebak di sana dengan biadabnya dipaksa menonton sinetron-sinetron itu!! Asal kalian tau AKU SANGAT BENCI SINETRON OVERLEBAY SEJUTA ITU!
Dimulai dengan sinetron yang punya tokoh ternista Amira-Prabu yang berjudul Putri yang Ditukar yang membuat angkara murka!

 mengupload gambar ini dengan batin tersiksa

Sumpah deh, ini sinetron isi ceritanya benar-benar dahsyat khayalannya #nelengalon. Bisa-bisanya anak ditukar-tukar gitu dan bisa-bisanya mereka segob**k itu! Di episode kemarin tuh ceritanya hasil DNA anaknya Amira (yang diperankan tante-tante ganjen Nikita Ngiwi-Ngiwi) ditukar apa gimana lah itu dan lalu Amira dipaksa cerai sama Rezky (alias Rezky Adiguna, sumpah ini cowok ganteng-ganteng tapi mau-maunya main sinetron picisan gini, sama tante girang lagi). Sungguh, demi sungai yang banjir, aku pengin banget muntah-muntah nonton ini #nenggakbotol. Semua adegan dan ceritanya sungguh khayal bangetttt! Mana ada sih tokoh sebaik, semenderita, senerimo itu di dunia, juga mana ada tokoh sejahat, setega, seburuk itu. Bagian mana coba dari kisah itu yang masuk di akal manusia... ampun DJ!!
Apalagi setelah menunggu lama sinetron ini berakhir, aku kembali dengan hinanya disuguhi sinetron dengan tipe senista yang pertama, judulnya Anugerah apa apalah itu, yang main Nabila Ngelekeb itu lho. Sinetron ini sungguh lebih nista! isinya tangis-tangisan melulu, penderitaan, rahasia-rahasian yang sumpah sama sekali nggak masuk akal di otak bagian manapun. Sekali lagi overlebaysejuta!!Ngarangeee poolll....

 mulai gatel-gatel nih mata


Yah itu cuma sebagian kecil sinetron overlebay sejuta yang tayang dan menebarkan virus akut di tv kita. Ini ada beberapa contoh lainnya:

nyiapin bantal buat ditendang

Tapi dua sinetron yang kemarin aku tonton itu sudah cukup sekali membuat aku mual-mual, gatal-gatal, emosi melonjak dan terkena sesak nafas mendadak! #ngasahgolok
Sumpah deh, aku pengin kabur dan minggat dari tempat itu, tapi apa daya aku tak bisa! Aku bagaikan tahanan yang sedang dibrogol tangannya dan disiksa segala hak asasinya dalam pemilihan selera nonton tv #apalahkie. Aku pengen banget teriakkkkk saat itu dan merebut dengan paksa remote tv dari tangan ibu-ibu maniak sinetron itu atau kalau nggak pengen aku bawa minggat tv di dalam ruangan itu!!! Huaaaa! Mana ini mata mau ngga mau harus ngadep tuh tv. Tersiksa lahir batin, jiwa raga pokoknya. Bisakah kalian membayangkan betapa aku menderita di ruangan itu selama kurang lebih 5 jam! Mau negur ngga enak, karena mereka lebih tua dan aku jelas kalah telak dalam perolehan suara.
Tolong lah ibu-ibu tercinta, ada anak-anak anda yang masih kecil-kecil di situ... Mereka bisa jadi korban atas keganasan sinetron-sinetron itu. Dampaknya itu lhoo... bisa masuk ke kepribadian atau kejiwaan putra-putri anda. Ngga heran deh kalau anak-anak kecil sekarang sudah dewasa sebelum waktunya, udah berani ngelawan orang tua, emosinya ngga stabil, pergaulannya mengerikan, budi pekertinya udah minus, hidupnya aja udah dipenuhi racun sedahsyat itu. Tiap hari disuguhi acara-acara yang amat sangat tidak mendidik. Mereka tanpa sadar sudah terpengaruh banyak dengan semua itu. Lebih miris lagi ya, aku pernah lihat iklan sinetron Antara Cinta dan Dusta menampilkan anak-anak SD yang berkomentar dengan riangnya tentang sinetron itu. Mereka hafal sekali kata-kata dalam sinetron itu melebihi hafalan pancasila. Astaganaga #miris teriris
Anak-anak yang malang yang mempunyai ibu-ibu yang malang korban sinetron, bagaimana aku harus memperingatkan mereka coba???!! #nyeduhkopi. Mana mamaku juga termasuk di dalamnya. Yah meski ngga sefanatik ibu-ibu itu tapi tetep aja dia suka.Uhhh... Mama... aku nggak mau berdebat dan menggurui tapi tolong jangan kau tonton tuh sinetron overlebay sejuta... Tuhan, jauhkan mamaku dari jampi-jampi sinetron itu... amin.

Aku miris, sedih, teriris, dan terluka melihat fenemona ini #ngelappipi. Pengen deh protes ke orang-orang yang memproduksi acara-acara itu, tapi ke mana??? Aku ini siapa juga. Hufftttt... Di tambah lagi, dengan duka yang sedalam-dalamnya sebagian besar sinetron-sinetron itu selalu mendapat rating tinggi, sehingga dengan biadab dan bangganya para PH itu berlomba-lomba membuat produksi sinetron-sinetron itu bertambah banyak dan membuatnya menjadi beratus-ratus episode. Arhhh... #ngasahgergaji
Sungguh, saat itu hatiku bener-bener empet dan sedih, nggak tau kenapa, apa karena lagi sensitif juga ya... Tapi aku benar-benar muak sama semua sinetron itu. Ngga tau apakah rasa ini hanya sementara? Tapi aku harap SELAMANYA. 
Aku benar-benar kangen banget sama Sailoormon, Wedding Peace, Ksatria Baja Hitam, Cilukbaa, Kring Kring Olala, Unyil, Susan dan Kak Ria Enes, Lenong Bocah juga drama korea kayak Full House, Silence, Putri Huan Zhu, Yoko dll... Tolong kembalilah dan selamatkan dunia pertelevisian dari sinetron-sinetron overlebay sejuta itu. 
Sailormoon, datanglah...
Dengan kekuatannn bulannn akan menghukum sinetron overlebay sejuta!!!

Dan di akhir kata dari postinganku ini, aku cuma berpesan: 
Mari kita berantas sinetron-sinetron overlebay sejuta itu!!! Bebaskan dunia pertelevisian kita!
#angkatbendera

atau...



See u in the next posting :(

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pagelaran Wayang



Hai Guyz :D
Apa kabar hari ini?? Pertanyaan yang klise banget ya. Soalnya aku bingung ini mau mulai dari mana. Hahahaha jujur banget. Biasalah starting is the most difficult thing in writing... Sebenarnya di posting kali ini aku mau menceritakan tentang Pagelaran Wayang di desaku selasa malam kemarin (31/05/2011). Bagi kalian yang baca statusku di fb dan twitter mestinya uda tau... Soalnya aku heboh sendiri... hahaha norak ya... Norak tapi eksis ngga apa-apa dong...(maksa)... 
Oke, lets start... Once upon a time (halah). Ceritanya tuh hari selasa itu di desaku ada Pagelaran Wayang yang katanya pihak dari kabupaten yang ngadain dalam rangka memperingati Hari Pancasila 1 Juni itu... (psstt...aku malah baru tau pas nonton, maklum uda ngga menginjakkan kaki di bangku sekolah).
Otomatis deh, aku dan keluargaku capcus nonton... Kita sempat khawatir hujan akan turun malam itu dikarenakan sekitar jam 15.00 hujan turun agak deras. Tapi mungkin karena pawang hujannya sakti dan doa seluruh umat yang ingin menonton wayang begitu khusyu'a, habis maghrib terang benderang... Asyikk... Habis isya aku, Safira dan mami tercinta langsung capcus meninggalkan bapak (tegaa..), ngga kok bapakku juga nyusul ntar. Soalnya kan mau menyambut Bapak Wabup, nggak enak lah mau nggak datang soale kan Pak Wabup udah tau kita rumahnya di sini (okeh nggak usah herann gitu deh.. nyata itu :p). Tak lupa deh  sebelum berangkat narsis dulu... 

Safira's style

my style

Nah, Pagelaran Wayang yang diadakan di balai desa Panembangan (desaku) emang dihadiri oleh Bapak Bupati dan Wakil Bupati (ngga usah mlongo gitu) dan diadakan semalam suntuk oleh 4 dalang. Sebelnya, waktu aku posting status tuh banyak yang ngga percaya, bahwasanya akan dihadiri bapak-bapak pejabat itu. Mentang-mentang tuh rumahku ndeso, pelosok, cuma ada sinyal telkomsel, (hikzz) dkira aku mengada-ada kali yeee... Okeh it's proven! *sorot mata ala Susana. 
Yah meski aku juga sampai sekarang masih bingung kenapa di antara sekian banyak desa di kabupaten Banyumas kenapa desaku yang dipilih ya??? Emang sih konon katanya karena mereka tau rumah Dinar Faiza itu di Panembangan sini (gubraakkk!). 
Okeh lanjut ya, sesampainya di balai desa, uda banyak banget orang-orang yang nonton. Pendopo balai desa pun sudah ditata sedemikian rupa bak panggung shownya Avril Lavigne (ngimpi!). Langsung deh aku nyempil ke bagian depan biar bisa live (for God's sake! thanks for my size). Xixixixi... Musik Gendingan sudah ditabuh. Sinden-sinden pun mulai menyanyi... Asyikk bener dahh...


Sorry deh kalau foto-fotonya jelek, kamera amatir, malam hari lagi...

Tak lama kemudian, terbuktilah kalau Bapak Bupati Banyumas, Mardjoko dan Bapak Wakil Bupati Ir. Achmad Husein datang.... Welcome to da club Pak! hahahaha

Pak Marjoko (Bupati Banyumas)

Acara pun dimulai, dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, pembacaan Pancasila tentunya oleh para hadirin..


dilanjut acara sambutan-sambutan lalu penyerahan wayang secara simbolik dari Pak Bupati ke 4 dalang yang akan tampil semalam suntuk! Yang hebatnya salah satu dalang tersebut adalah Bapak Wabup sendiri, Pak Husein. Kerenn dahh waktu beliau ndalang... Ini dia... 


Pokoknya tambah salut deh aku sama beliau. Mana baik lagi orangnya (I have proved it!). Penampilan beliau menyihir antusiasme penonton... Banyak banget penonton sampai rela berdesak-desakan nih... 


Safira di antara penonton


Acara berlangsung cukup meriah, lapangan dan balai desa Panembangan dipadati masyarakat yang datang berbondong-bondong. Entah itu dengan keluarga, pacar atau teman. Lapangan disulap seperti pasar malam dadakan. Banyak sekali penjual makanan, mainan, jagung bakar dan lainnya.

Penonton yang berjubel

Pedagang

Dipih..dipilih..dipilih...

Setelah cape menonton sang dalang beraksi, aku, mama dan fira memutuskan untuk minggir mencari sesuap nasi, semangkok bakso atau sepiring martabak (??). Secara gituu perut kita uda keroncongan karena belum makan sore dan makan malam (maruk)... Aku dan mama memutuskan memilih bakso sebagai santapan dan Fira lebih memilih nasi goreng bersama Jihan (keponakanku). Okelah dengan kecepatan cahaya lampu aku makan dengan lahap (apaan sih?). Setelah kenyang, lalu kami menuju penjual jagung bakar (heheh). Hasrat makan boleh tepenuhi tapi hasrat camilan masih separo terpenuhi (kemaruk.com).
Puas makan dan keliling lapangan, kita memutuskan untuk pulang. Dan masalah datang karena hp bateraiku abis, jadi tak bisa menghubungi mamasku (mas Imam) buat jemput. Mau nunggu bapak yang masih di pendopo dipastikan kita akan mengakar di tanah. Soalnya bapak pasti sampai malam banget. So, diputuskan dengan hati berat dan kepaksa kita jalannn kakiii sampe rumahhh... Okelah tak apa (T__T) uda kenyang ini... Dan ternyata di jalan kita ketemu tetangga-tetangga, jadi nggak kerasa deh jalan sambil ngobrol (ngga kerasa kaki mau copot maksuteee).
Cukup puas kita nonton wayang dan tukang jajanan... hehehehe. Sementara di lapangan dan pendopo masih banyak orang yang antusias menonton semalam suntuk. Antusiasme masyarakat (termasuk aku :p) membuktikan bahwa mereka haus hiburan dan kesenian tradisional seperti ini. Wayang memang jarang ada sekarang. Kebanyakan kalau 17 Agustus pun paling hanya ada organ tunggal, dangdut atau sejenisnya. Kesenian seperti wayang, ebeg, lengger sudah jarang tampil. Sedih... Makanya senang sekali waktu ada acara ini di desaku. 
Jadi sebagai warga Panembangan, saya, Dinar Faiza, mewakili warga semua di sini bangga dan mengucapkan terimakasih atas kepercayaan pelanggan dan konsumen, ups, terimakasih kepada semua pihak yang sudah menyelenggarakan Pagelaran Wayang ini dan memilih desa saya yang asri, sejuk, indah ini... (uhuk). Semoga acara-acara seperti ini sering-sering diadakan. Amin...

Okay, I think that's all... Thanks for reading! See u in the next post...! :D


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Obrolan Setelah Gerhana

Hey bulan, sudahkah kau bertemu matahari?
Bulan, malam ini kulihat wajahmu bersinar terang
Aku tahu kamu telah berjumpa dengannya
Hanya beberapa menit, lunaskah rindumu padanya?
Hey bulan, apa yang tadi malam kalian bicarakan?
Cinta? Atau kami manusia?

Hey bulan, apakah matahari sudah bercerita padamu
 tentang berapa banyak senyum licik yang telah dia saksikan?
Atau mungkin dia telah bercerita tentang tangan-tangan yang bersalaman lewat belakang?
Bulan, sudahkah matahari mengatakan padamu tentang banjir darah yang tertumpah di tanahku?

Bulan, apakah matahari sempat bercerita juga tentang alam yang mengeluh akan keringkihannya?
Atau tentang setan-setan yang menari-nari kegirangan karena mendapat teman
Karena melihat manusia yang sekarang sudah lebih lihai dari serigala berbulu domba?

Oya bulan, aku harap kau tidak lupa mengatakan padanya tentang kikikan para dara malam pemuas nafus
Kau juga harus menceritakan bahwa sekarang manusia sudah lebih cerdik dari kucing saat mengendap mencuri makan

Duhai bulan... kenapa kau membisu??!
Marahkah kau padaku karena aku termasuk golongan yang membuat lampu-lampu merkuri sehingga mengalahkan sinar cantikmu??
Jawab bulan, “Hah!! Sia-sia waktu kami untuk membicarakan kalian manusia!”


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Warna Minoritas

Warna, itu banyak macamnya. Ada biru, merah, jingga dan masih banyak lainnya. Semuanya indah sesuai ciri khasnya. Tanpa perlu dicampuradukan untuk menjadi satu. Mereka indah karena berbeda. Mereka ada karena cinta. Seperti suatu aliran apapun, kepercayaan, keyakinan, fisik, keagamaan, sifat, bentuk. Semuanya diciptakan berbeda. Kiranya menyakitkan bila dipaksa menjadi sama atau pun dicela salah satunya. Dan itu selalu terjadi di antara beda-beda warna. Benci aku menyebutnya. Tapi mayoritas dan minoritas memang selalu ada.

Berbahagialah yang menjadi mayoritas karena melegakan karena tidak dicap "BEDA" di jidatnya. Bisa berkehidupan senormal-normal teman mayor lainnya. Tinggal si minoritas yang kadang terpinggirkan, karena ditempeli stempel "BEDA" di jidatnya.

Menjadi orang yang masuk ke golongan minoritas memang harus menyediakan mental sekuat baja, melapisi kuping dengan sekeras tembok, menutup mata serekat madu... Apalagi jika dikelilingi keimanan fanatik orang di sekitarnya. Sembilu deraan lara terus menyerang menuju sel-sel terkecil. 
Menjadi orang yang berbeda, sangat berbeda di antara orang yang hampir-hampir sama di sekilingnya adalah derita. Apalagi jika panji-panji kefanatikan itu selalu menderanya.
Kenapa tidak biarkan yang berbeda, yang minoritas ini menjaga eksistensinya dengan damai gembira. Tanpa perlu dirampas hak-hak kepercayaannya atau dikebiri keimanannya.

Keyakinan itu suci, sebenarnya. Karena menyangkut jiwa dan Nya. Maka senyawa fisik di bumi tolong jangan sampai menelusupi. Itu sudah menjadi tidak bijak. Semua yang ada di permukaan ini berbeda. Memang terkodrat selalu berbeda, jadi jangan dipaksakan untuk menjadi sama. Karena bumi sangat indah jika berwarna.

Ku tak kan memaksamu mencintai warnaku, jadi jangan cela kombinasi warnaku ni. Warnaku sangat indah di mataku, tak sama denganmu, dan tak ada yang sedang mengharuskan sama. Bahkan ku yakin Tuhanku, Tuhanmu setuju. Memuja keyakinanmu, pikiranmu, yang menjadi menurutmu, secara terlalu di depan orang yang tak sama denganmu, itu merenggut jiwa mereka.
 
Semua warna itu indah, jika disatukan sebagaimana mestinya.
Pelangi itu sudah sangat indah, tanpa perlu membirukan semua atau menghijaukan semua...
Biarkanlah sebagaimana mestinya... menjadi satu kumpulan warna, yang cantik tiada tara.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Singgasana itu akan pergi

Hinggap dari satu kamar ke kamar lain
Ditanya akan satu tanya ke tanya lain
Dilihat oleh sepasang mata ke mata lain
Sampai kemudian terusir karena batasan tuanya
Lalu menjelajah...mencari...meminta...
Berteriak...memohon...berjuang
Hingga akhirnya membangun ruang bagai singgasana
Keringat, air mata itu terbayar lunas
Hirupan nafas ini tidak terdengar berat lagi
Rentetan pertanyaan basi itu tak terngiang lagi
Bahkan mata-mata yang menusuk itu bisa dihindari
Sedikit senyum bisa melebar di wajah putih ini
Lega...
Berharap ini akan selamanya...
Meski tak dipungkiri tak bisa sedikitpun mengobati luka yang mendarah ini
Sembah syukur selalu dilantun
Sampai kemudian beberapa jengkal waktu terlewat
Sejengkal ruangnya terusik
Singgasananya terancam
Drakula ini masih haus darah
Lapisan kulitnya masih pucat
Raganya masih tak ada daya
Tapi sekarang ditambah sinar mata itu kosong
Siratan gelisah akan tinggalnya
Senyum yang menghiasi bibir putih itu sudah meredup...
Menyisakan kesuraman yang lebih dalam
Jeritan itu kembali terdengar...
Helaan nafas berat itu kembali terhirup
Membangunkan paksa mimpi-mimpi buruk
Drakula ini tak percaya akan keberadaan dewa-dewa
Tapi dia melihat sendiri dewa-dewa terpilih itu memainkan tangannya
Merubah segalanya...
Dewa-dewa itu punya kuasa
Lebih dari yang dia duga
Kata-katanya bagai sabda
Tinggal drakula ini tak berdaya
Singgasana terbaiknya akan pergi
Sementara dirinya tinggal menelan kepahitan ini
Dia masih haus darah
Dia masih lemah
Dan dia masih harus tetap berdiri menghadapi mimpi buruk itu kembali


4 November 2010

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sudah saatnya ada Pak Kasur, A.T Mahmud atau Papa T.Bob lain sekarang!

Aku sekarang lagi merasa prihatin . Prihatin banget. Sama adikku, sepupu-sepupu kecilku, anak-anak tetanggaku, dan anak-anak Indonesia pada umumnya. 
Berawal dari adikku yang belakangan ini suka greyengan (mendendangkan lagu bervolume minimal.red). Ya, adikku Safira Rosmaniar, sekarang usut punya usut sering kudengar sedang mendendangkan lagu Keong Racun ( tadinya aku heran karena dia hafal, ternyata dia punya catatan liriknya, gilaa dapet darimana coba...). Setelah sebelum-sebelumnya ketika lagu C.I.N.T.A dan Aishiteru sedang booming pun, dia selalu menyanyikannya padahal kakaknya ngga sama sekali) . What the hell she sang about?!!. Aku prihatin banget melihat itu semua. Apalagi ternyata itu juga menjalar ke anak-anak lain di sekitarku. Ya ampun adik-adikku tersayang, tahukah kalian apa maksud lirik-lirik itu?? Itu sama sekali bukan dunia kalian.... dunia kalian tuh masih jauh banget dari itu...

Aku sedih karena mereka seperti sudah tidak mempunyai lagu anak-anak lagi. Mungkin masih ada sih, tapi minim banget. Tidak seperti zamanku dulu, yang banyak sekali dicekoki lagu anak-anak yang keren-keren dan berwarna-warni. Seperti lagu-lagunya Maissy, Chikita Meidi, Trio Kwek-kwek, Saskia, Geovani dll. Tentu kalian yang seumurku masih ingat lagu Cilukba, Kuku Kuku, Menabung, Abang Tukang Bakso atau Semut-Semut Kecil? Lagu-lagu itu sesuai banget dengan imajinasi dan dunia anak-anak yang seharusnya. Pokoknya anak-anak banget!! Aku bahkan mengoleksi semua kaset mereka, terutama Maissy (ssst...ini karena kata orang-orang sekitarku waktu kecil aku mirip Maissy. Hehehe ^_^v). Pokoknya standing applause for Pak Kasur, Bu Kasur, A.T Mahmud, Papa T. Bob dan pencipta lagu anak-anak lainnya. Lagu-lagu mereka tuh unforgetable banget.

Tapi sayangnya, sekarang kayaknya udah nggak ada Maissy, Chikita Medi, Trio Kwek-kwek, Saskia, Geovani baru. Itu membuat lagu anak-anak kayak mengalami mati suri. Jarang sekali terdengar dan tentu saja anak-anak menjadi asing akan lagu-lagu itu.
‘Buka Hatimu’nya Armada, ‘Aishiteru’nya Zivilia, ‘C.I.N.T.A’nya D’Bagindas, bahkan Keong Racun ataupun Cinta Satu Malam yang sekarang menjadi trend di kalangan bocah-bocah lugu itu. Hanya satu kata yang kurasa, IRONIS!! Dampak media rupanya berperan sangat besar di sini. Aku mengalaminya sendiri karena adikku udah jadi salah satu korban nyatanya.

Ya media...media menjadi salah satu penyebab utamanya. Media yang tidak pernah mempertimbangkan untuk sedikit saja memikirkan dunia anak. Media yang tidak pernah membuat porsi yang seimbang dalam membuat sebuah program atau tayangan. Media yang selalu saja berlomba untuk mencari keuntungan dan rating bukan kepedulian akan masa depan. Acara musik mungkin bejibun, tapi sekarang ada ngga sih yang tentang dunia anak atau benar-benar lagu anak-anak. Padahal kebanyakan anak-anak menghabiskan waktunya atau hidupnya bersama media, terutama televisi. Terseraplah semua itu dalam pikiran dan tingkah laku mereka. Pantas saja dulu Alm. Pak A.T Mahmud menyalahkan para awak media, ketika diwawancarai. Kalau nggak salah sih, beliau bilang begini, “Kalian...Kalian-kalian ini yang merusak dunia anak-anak... Mencekoki dengan hal yang tidak mendidik...“ Kurang lebihnya gitu deh. Aku setuju banget sama pendapat beliau. Beliau adalah orang yang paling sedih melihat matinya lagu anak-anak sekarang. Melihat anak-anak menyanyikan lagu orang dewasa dan kehilangan dunianya. Sumpah aku sedih banget waktu beliau meninggal. Padahal kenal ya nggak, ngefans ya nggak... tapi nggak tau kenapa... (akunya kali ya yang cengeng) :p
Bahkan sekarang, bisa kita lihat berapa persen lagu anak-anak di dunia musik atau acara anak-anak di tv?? Ya ampunnn sedikittt banget. Padahal yang mau pegang dunia ini ya nanti mereka. Kita-kita sih uda pada bangkotan, merekalah yang megang masa depan. Pantesan sekarang banyak anak-anak yang sudah dewasa sebelum waktunya atau anak-anak yang kenakalannya sudah di luar batas wajar. Itu karena lingkungan mereka pun udah nggak kondusif dan dunia anak-anak mereka sudah dirampas. Kasihan banget sih adik-adikku... masa masih SD ngomonginnya uda cinta-cintaan sih.

Wahaiiii para pencipta lagu, tolonglah jangan nyiptain lagu cinta mlulu... anak lu tuh diurusin. Dunianya udah kayak apa sekarang....
Sayang ya aku nggak punya kenalan pencipta lagu terkenal gitu... kalau ada yang kenal tolong deh dibilangin... Sudah saatnya ada Pak Kasur,Bu Kasur, A.T Mahmud atau Papa T.Bob lain sekarang!



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

K.O.N.D.A.N.G.A.N

Lagi buka-buka coretan lama di my document eh nemu file yang kutulis duluu bgt.. 
Judulnya: KONDANGAN.
 Berawal dari satu keluhan yang kudengar dari mulut my mom tersayang…
“Undangan lagi… undangan lagi… Heran deh… ngga ada abisnya…” dumel mama.
“Apaan sih ma?” tanyaku yang lagi menonton tv agak terganggu.
“Itu tuh… wong mbarang gawe koh ana bae… undangan tiga aja belum abis, datang lagi… datang lagi,” sungut mamaku sambil menaruh sebuah undangan di atas meja makan.
Penasaran, aku pun mengambil undangan itu. Undangan perkawinan. Dari salah satu tetangga desa, yang aku sendiri tak tahu siapa.
Satu keluhan itu kemudian ternyata nggak putus sampai di situ… Hari berikutnya terdengar lagi… dan lagi… Nggak Cuma dari mamaku saja tapi dari Bu lik, kakak sepupu, Bu de, belum lagi tetangga-tetangga di sekitar rumah.
Kondangan. Mbrang gawe. (istilah Banyumas)
Itu adalah satu fenomena yang saling melekat di kehidupan masyarakat kita. Sudah 
mengakar dari entah beberapa puluh tahun, kita sendiri nggak tahu. Mungkin banyak dari kalian yang mengenal istilah ini. Ini biasa disebut hajatan atau syukuran dari pernikahan atau khitanan. Ya, mungkin tujuan dari tradisi ini sebenarnya adalah bentuk rasa syukur atas kebahagiaan atas pernikahan atau khitanan. Si empunya hajat biasanya ingin berbagi kebahagiaan dengan saudara atau tetangga mereka. Tapi ironisnya sekarang dibalik kebahagiaan itu terbesit keluhan-keluhan di belakangnya. Ekonomi pas-pasan, membuat kondangan menjadi tambahan beban bagi mereka. Bahkan kadang orang membuat hajat, menjadi tidak murni lagi tujuannya, yaitu untuk syukuran tapi banyak juga hanya ingin memperoleh untung dan gengsi... Ironis memang. Tapi tradisi... tetap menjadi tradisi...sulit untuk dihapus. Hanya mungkin tujuan dan artinya harus diluruskan kembali...agar tidak melenceng....

Di bawah ini ada beberapa bait pandanganku ttg kondangan itu sendiri, nggak pantes juga sih dikatakan puisi... nggak tau lah apa namanya... Enjoy reading...


K.O.N.D.A.N.G.A.N
Suara dentuman music dari sound system terdengar…
Dangdut… melayu… qosidah… menjadi favorit…
Tratag… dari tenda… terpal… kain… atau seng… terpasang…
Senyum ramah… Sumringah… letih… di wajah tuan rumah tergambar….
Senyuman… sapaan… juga ada di wajah tamu-tamu undangan…
Tentengan… blik-blik… kaleng-kaleng… amplop… tak lupa ada di tangan…
Sajian makanan… kue-kue… kripik… prasmanan…. Terhidang…
Ramah tamah… percakapan… gurauan… bersahut-sahutan…

K-O-N-D-A-N-G-A-N
Punya dua sisi mata uang…
Satu tadi tergambar… sekarang satu sisi lagi akan ku umbar…

Rencana terlontar… pusing nyari utang…
Utang udah didapat… saudara diajak rapat…
Maksud terbilang… mulai mencari sumbang
Panitia dibentuk… glidig direkrut…
Sajian dibahas… lalu mulai dikemas…
Undangan terbentuk… lalu tercetak…
Setelah disebar… kabar pun tersiar…
Orang-orang kasak-kusuk…. Ketika melihat sedikit uang masuk…
Keluhan terlontar… kita aja masih sering lapar…
Tapi harga diri terlontar… jika tak ada 1 kilo pun beras sekedar…
Pusing… pusing… tujuh keliling…
Anak-anak minta jajan… tak ada uang buat kondangan…
Mengelak tak bisa… karena harga diri taruhannya…
Itu kata mereka…
Kata orangtuaku… orang tuamu…
Saudaraku… saudaramu…
Tetanggaku… tetanggamu…
Panembangan, 21 Januari 2009









 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS