Yutaka Kobayakawa - Lucky Star
RSS

Obrolan Setelah Gerhana

Hey bulan, sudahkah kau bertemu matahari?
Bulan, malam ini kulihat wajahmu bersinar terang
Aku tahu kamu telah berjumpa dengannya
Hanya beberapa menit, lunaskah rindumu padanya?
Hey bulan, apa yang tadi malam kalian bicarakan?
Cinta? Atau kami manusia?

Hey bulan, apakah matahari sudah bercerita padamu
 tentang berapa banyak senyum licik yang telah dia saksikan?
Atau mungkin dia telah bercerita tentang tangan-tangan yang bersalaman lewat belakang?
Bulan, sudahkah matahari mengatakan padamu tentang banjir darah yang tertumpah di tanahku?

Bulan, apakah matahari sempat bercerita juga tentang alam yang mengeluh akan keringkihannya?
Atau tentang setan-setan yang menari-nari kegirangan karena mendapat teman
Karena melihat manusia yang sekarang sudah lebih lihai dari serigala berbulu domba?

Oya bulan, aku harap kau tidak lupa mengatakan padanya tentang kikikan para dara malam pemuas nafus
Kau juga harus menceritakan bahwa sekarang manusia sudah lebih cerdik dari kucing saat mengendap mencuri makan

Duhai bulan... kenapa kau membisu??!
Marahkah kau padaku karena aku termasuk golongan yang membuat lampu-lampu merkuri sehingga mengalahkan sinar cantikmu??
Jawab bulan, “Hah!! Sia-sia waktu kami untuk membicarakan kalian manusia!”


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gumpalan Penat

Dia masih membaringkan kepalanya di bantal merah itu... semakin menenggelamkan diri, seakan melenyapkan suara-suara keras dan kebisingan di sekitar kupingnya.
Tangannya yang bimbang meraih seonggok boneka biru, bulat... lebih bulat darinya. Matanya memang menutup rapat. Tapi dia sama sekali tidak menikmati tidurnya. Bahkan merasa tersiksa karenanya.
Lalu sesuatu mengentakkan dengan tiba-tiba, dan membangunkannya. Kembali. Sudah tiga kali dalam semalam ini dia terbangun. Dengan muka kaget seperti itu. Seperti direnggut dengan tiba-tiba dari mimpi-mimpinya.
Dia melirik jarum lancip di sebelahnya, jarum yang tak sama panjangnya. 02.30 pagi. Masih sunyi. Dia menjilat bibirnya yang kering. Memaksanya untuk kembali ke dapur, mengambil segelas air segar, untuk menyiram bibir itu agar tidak pecah.


Dia mencoba mengingat apa yang ada dalam tidurnya tadi, apa mimpi yang masuk di dalamnya. Dia tidak ingat. Satu yang terekam jelas, dia merasa sangat kaget. Lalu terjaga. Itu saja. Keringat mengembun di kulitnya. Dalam pikirannya, kembali sejumput kepeningan yang luar biasa, segumpal tekanan yang tak berima masih bersemayam paksa. Dia merasa sangat penat. Dia merasa itu sungguh membuatnya terengah-engah.


Lalu dia mulai membaringkan diri lagi. Menerawangkan pikirannya, mencari apa yang dikhawatirkannya, apa yang menjadi gumpalan tekanannya, dan apa yang membuat tidurnya demikian menakutkan...dan sangat tidak nyaman. Dia mulai mengingat segala hari-hari yang dilaluinya, memperhatikan segala yang harus dilakukannya, mengurutkan apa yg blum dilakukannya, atau mungkin janji-janji yang belum dipenuhinya. Satu persatu wajah orang-orang terdekatnya muncul. Video rekaman kejadian mencoba berputar lagi. Nihil. Semakin gelap.  Gumpalan tekanan dan kesedihan itu masih belum hilang. Dia merasa putus asa. Melihat tidak ada tanda-tanda.


Dia mencoba untuk kembali masuk ke tidurnya. Berharap besok itu semua akan lenyap esoknya. Dan dia kembali terbangun dengan muka bahagia, seperti masa-masa kecilnya.


Dia memang tak ingat apa penyebab itu semua. Karena memorinya sudah terenggut oleh benturan di aspal nan keras itu. Dia mungkin tak akan pernah lagi mengingatnya. Penyebab gumpalan tekanan, kehampaan dan kesedihan di pikirannya.


Gumpalan-gumpalan yang bersumber akan segala pertanyaan-pertanyaannya;
Akan Tuhannya,
Akan hidupnya yang untuk apa
dan kenapa hanya boleh diberikan pada Tuhannya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Untuk Kamu

Kamu tahu, persahabatan indah
Bagiku pelipur lara
Bak ambrosia yang menyegarkan
Seperti cahaya yang menerangi gelapnya gua
Seri mukamu penyejuk hati keruh

Ketika bisik orang awam
Mendengung menutupi syukur
Tawa kita membuka semua
Letupan-letupan kebersamaan
Terdengar indah di telingaku

Tak apa aku tetap menjadi semut
Meski kecil kaya sekali akan sahabat
Bergerombol sama-sama meraih sebutir nasi
Aku hilang daya bila sepi
Aku menyusut bila sendiri

Terima kasih karena berkelip untukku
Terimakasih akan pingkal tawa yang menceriakanku
Satu katamu mengikis seribu peluhku
Sahabat...


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Masalah datang..tanpa permisi

Beberapa hari belakangan ini q merasa selalu ada yang salah dalam setiap gerakku, pikirku, hatiku, hidupku n semua yang ada d sekilingku. Masalah sedang rajin menyambangiku, tanpa absen terlebih dahulu. Semuanya sedang tidak dalam kondisi yang bagus untuk diberi suatu senyum. Q tidak tau sedang kenapa atau apa tepatnya yang membuat semuanya seakan jadi runyam seperti ini. Q bukan orang yang suka cari masalah ataupun suka kehidupan yang penuh kerumitan. Q lebih cenderung menginginkan hidup yang tenang, aman tanpa mencari-cari sebuah kesalahan apalagi musuh. Q sama sekali tidak ingin punya musuh. Kalau toh q tidak suka dengan seseorang, q lebih memilih untuk menghindarinya. Satu persatu perasaan tak nyaman, kesal, hampa itu menelusup. Ditambah msalah, kesalahpahaman kecil, himpitan tugas ataupun beban masuk satu persatu tanpa permisi. Yang satu belum penuh keluar, muncul lagi.


Butuh rasanya sandaran, tong sampah, ahu kosong, bantal empuk, saputangan halus atau apapun lah itu yang bisa meluapkan emosi dan himpitanku. Q coba satu persatu, ingin kubuka sedikit beban di pundakku... Susah payah q paksakan mulut ini terbuka... tapi tetap... lidahku kelu... tak bisa lepas... Seseorang, entahlah itu siapa, sahabat, temen, tetangga, saudara, musuh bahkan tak juga ku bisa utarakan smua... tinggal himpit menghimpit menelusuk sakit,,,,
Alih-alih q bisa melampiaskan penat, yang kudapat malah gumpalan sesak yang terus bertambah... masalah satu muncul lagi... tanpa q bisa membendungnya...
Q sama sekali tidak ingin menambah masalah... Q hanya tidak bisa menyangkalkannya ataupun membagikannya...
Tak apalah q tak dengar, tapi pintaku hanya diam... tetaplah di sana... dan diam saja... sediakan q satu senyuman sebagai sedikit pengobat keresahan... jangan menambah lagi sesak di dada ini...
Sungguh... q sama sekali tidak ingin cari musuh... dan jika q melukai sekerat hatimu..tolong percayalah... itu bukanlah suatu kesengajaan... sama sekali bukan keinginan...
jadi yang hanya bisa kukatakan hanya MAAFKAN... maaf... lebih q ucapkan dulu, meski q tak tau apa benar ini salahku...
senyuman dan tawa yang kalian bagi akan sangat cukup untuk mengobati n 'meniadakan' sejenak semua penat dan msalah itu


:')

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dalam Diam

Dalam Diam

Aku mungkin tak bisa tak peduli
Dengan bara  api penuh risi
Semua ini hanya luka tak berperi
Seperti seribu dewa mati
                  Diriku terbang, diriku melayang
                  Walau merasa terbuang
                  Masih tersisa sedikit sayang
                  Kan selalu terpancang
Halusinasi menyelimuti
Mata ini terpejam
Mencari arti sebuah diri
Yang mungkin tetap kelam
                   Serentetan kata mengabur
                  Tersulam sampai ke kubur
‘                 Mungkin kan terhapus umur
                  Sampai terdengar tekukur
Bayang telah penuh dara
Aku telentang meniti lalu
Kini semua menjadi duka
Dalam setiap kalbu
Walau aku terus menampik
                   Tatapan penuh selidik
                   Terbalas dengan delik
                   Mengikuti pola ritmik
                   Terasa kering dalam gersang
                   Terasa sempit dalam himpit
                  
By Dinar Faiza

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Warna Minoritas

Warna, itu banyak macamnya. Ada biru, merah, jingga dan masih banyak lainnya. Semuanya indah sesuai ciri khasnya. Tanpa perlu dicampuradukan untuk menjadi satu. Mereka indah karena berbeda. Mereka ada karena cinta. Seperti suatu aliran apapun, kepercayaan, keyakinan, fisik, keagamaan, sifat, bentuk. Semuanya diciptakan berbeda. Kiranya menyakitkan bila dipaksa menjadi sama atau pun dicela salah satunya. Dan itu selalu terjadi di antara beda-beda warna. Benci aku menyebutnya. Tapi mayoritas dan minoritas memang selalu ada.

Berbahagialah yang menjadi mayoritas karena melegakan karena tidak dicap "BEDA" di jidatnya. Bisa berkehidupan senormal-normal teman mayor lainnya. Tinggal si minoritas yang kadang terpinggirkan, karena ditempeli stempel "BEDA" di jidatnya.

Menjadi orang yang masuk ke golongan minoritas memang harus menyediakan mental sekuat baja, melapisi kuping dengan sekeras tembok, menutup mata serekat madu... Apalagi jika dikelilingi keimanan fanatik orang di sekitarnya. Sembilu deraan lara terus menyerang menuju sel-sel terkecil. 
Menjadi orang yang berbeda, sangat berbeda di antara orang yang hampir-hampir sama di sekilingnya adalah derita. Apalagi jika panji-panji kefanatikan itu selalu menderanya.
Kenapa tidak biarkan yang berbeda, yang minoritas ini menjaga eksistensinya dengan damai gembira. Tanpa perlu dirampas hak-hak kepercayaannya atau dikebiri keimanannya.

Keyakinan itu suci, sebenarnya. Karena menyangkut jiwa dan Nya. Maka senyawa fisik di bumi tolong jangan sampai menelusupi. Itu sudah menjadi tidak bijak. Semua yang ada di permukaan ini berbeda. Memang terkodrat selalu berbeda, jadi jangan dipaksakan untuk menjadi sama. Karena bumi sangat indah jika berwarna.

Ku tak kan memaksamu mencintai warnaku, jadi jangan cela kombinasi warnaku ni. Warnaku sangat indah di mataku, tak sama denganmu, dan tak ada yang sedang mengharuskan sama. Bahkan ku yakin Tuhanku, Tuhanmu setuju. Memuja keyakinanmu, pikiranmu, yang menjadi menurutmu, secara terlalu di depan orang yang tak sama denganmu, itu merenggut jiwa mereka.
 
Semua warna itu indah, jika disatukan sebagaimana mestinya.
Pelangi itu sudah sangat indah, tanpa perlu membirukan semua atau menghijaukan semua...
Biarkanlah sebagaimana mestinya... menjadi satu kumpulan warna, yang cantik tiada tara.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hey...hey... Aku Kembali

Hey..hey...hey....I am back... Aku kembali..
Lama sekali rasanya aku tak menorehkan tulisan di blog ini... bukan karena jadwal yang padat atau serangkaian aktivitas yang menyesakan sebenarnya... tapi karena
AKU LUPA PASSWORD BLOGKU!!!!!!!
Trang..trang..trang...
Sungguh alasan yang sama sekali tidak keren bukan,,,, hufft...
tapi itulah aku yang amat sangat pelupa...
Gonta-ganti password udah jadi langganan bagi Dinar Faiza, entah itu password facebook, twitter, email, ebook, ATM... etc...
how stupid I am!!
lengot bgt lah pokoknya...
Padahal dilihat dari segi umur ya perasaan belum tua-tua amat, belum ada uban, belum ada cucu... ckckckck...
Menyedihkan.
Sudahlah, kita tinggalkan saja pembahasan tentang sifat jelekku ini ya..
Doakan saja kali ini aku tak lupa lagi dengan password baru blogku ini...
hehehehe...

Oh ya, sedikit informasi saudara-saudara, sekarang masa perkuliahan saya sudah memasuki masa penulisan skripsi..
UHhh yeahhhh...
Masa puncaknya kata orang, tapi memang sih, bikin puyeng, enek, mual, bingung, linglung dsb...
sekarang aku sedang berteman sangat akrab dengan Uncle Google, Mbah Wiki, Mamas Ebook dan juga uda mulai kenalan sama Kakek Derrida, Nyai Nyoman Kutha, Mamas Erich Fromm,Paman Christopher Norris dan anggota pendukung skripsi lainnya...
Gaulnya sekarang lagi sama buku-buku keren...
Nih contohnya. Ada buku tentang dekontruksi atau postmodernisme dan teori sastra lain.



Sekarang uda jarang ketemu sama yang namanya novel atau majalah..
Novel yang lagi dicintai sangat adalah ...............

Yupzzz... Twilight by Stephenie Meyer... Secara ini adalah objek skripsiku tersayang... hehehehe

Pokoknya Dinar sekarang sudah sangat berbeda deh dengan keadaan Dinar ketika memposting postingan terakhir... Dinar sekarang lagi tambah suka stress dan melongo sendiri...hehehe...
Tapi.... herannya aku tambah Ndud koh.....
Hikz..hikz...hikz... Pipiku tambah chubby.. dan tambah lebar nih badan... Huaaaaa...
Efek kebanyakan nganggur juga di rumah.... Aku kan udah jarang kuliah. Kuliah tinggal 1 makul aja di hari kamis... mau ngga gendut darimana coba... di rumah makan tinggal makan, nggak perlu mikir, ngga perlu ongkir... ckckckck....
Pokoknya tambah mbem lah...
Lihat aja nih... tambah chubby...
Kalau mau lihat jelasnya, nih q jejerin yang jelas..
 
                                                   Dulu                                 Sekarang
                              

Bisa dilihat kan betapa berbedanya??? Mungkin pengaruh stress juga sih... karena itu menyebabkan perubahan pola makan... Huaaaaaaaaaaaaa.....
Sebodo ah...
Yang penting happy....
Iya kan....
Doain aja biar skripsiku lancar dan diberi kemudahan dalam segalanya... amin...
Aku pikir cukup sekian dulu postingan ini... Yang penting saya udah menorehkan beberapa basa-basi supaya membuktikan kalau blog ini masih eksis... hahahaha...
Muachh..Muachh... :D



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS